Knowledge Sharing

Because we cared about you

Klasifikasi Jenis Penelitian

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Klasifikasi yang sangat sering dikemukakan adalah penelitian deskriptif dan penelitian analitik. Pembagian ini menimbulkan kerancuan oleh karena sering disalahtafsirkan, yaitu disebut sebagai penelitian deskriptif akan tetapi dalam pelaksanaannya dilakukan analisis data. Sebaliknya pada setiap studi analitik selalu diawali dengan deskripsi data sebelum dilakukan analisis. Arti kedua jenis penelitian tersebut diuraikan dibawah.

Namun harus diakui bahwa terdapat perbedaan dalam klasifikasi ini. Kami masih menggunakan pemahaman konvensional, dengan mengacu pada ada atau tidaknya hubungan antar-variabel. Studi yang tidak mempelajari hubungan antar-variabel disebut penelitian deskriptif, dan semua penelitian yang mencari hubungan antar-variabel disebut sebagai penelitian analitik. Pendapat lain memberi batasan yang lebih ketat untuk menyatakan studi analitik, yakni penelitian yang mencari hubungan kausal, termasuk uji klinis dan studi etiologi. Dengan demikian uji diagnostik, misalnya, menurut paham ini termasuk studi deskriptif.

Pada penelitian deksriptif peneliti hanya melakukan deskripsi mengenai fenomena yang ditemukan. Hasil pngukuran disajikan secara apa adanya, sering dikelompokkan tergantung pada sifat topik yang diteliti, namun tidak dilakukan analisis mengapa fenomena tersebut terjadi. Pada studi deksriptif tidak diperlukan rumusan hipotesis sehingga terdapat data yang terkumpul tidak dilakukan uji hipotesis (uji statistika) seperti uji x2 atau uji-t meupun penghitugan risiko relatif, rasio odds dan sejenisnya. Contohnya adalah survei morbiditas dan mortalitas, atau gambaran klinis dan laboratorium sindrom atau penyakit tertentu. Laporan retrospektif hasil pengobatan (biasanya dalam konteks pelayanan pasien) yang dilakukan tanpa kontrol adalah contoh lain.

Klasifikasi Jenis Penelitian

Klasifikasi Jenis Penelitian

Berbeda dengan pada studi deskriptif, pada penelitian analitik tujuan utama para peneliti justru mencari hubungan antara variabel yang satu dengan variabel lainnya. Pada penelitian analitik ini dilakukan analisis terhadap data yang diperoleh, oleh karena itu pada penelitian analitik selalu diperluka hipotesis yang harus sudah diformulasikan sebelum penelitian dimulai (a priori), untuk divalidasi dengan data empiris yang dikumpulkan. Hubungan antar-variabel dapat dilakukan dengan berbagai jenis hipotesis (sering kali disebut secara kurang tepat sebagai ‘uji statistika’ atau uji ‘kemaknaan’) sesuai dengan data, dan / atau berbagai jenis analisis lain seperti risiko relatif, rasio odds yang disebutkan diatas.

Telah disebutkan bahwa data pada penelitian deskriptif sering dapat dipakai untuk penelitian analitik pada tahapan berikutnya. Jika kita akan melakukan penelitian tentang penyakit yang datanya masih sedikit, sebaiknya dilakukan penelitian deskriptif terlebih dahulu. Data tersebut kemudian dipakai untuk menyusun latar belakang dan hipotesis penelitian analitik. Hal tersebut relevan untuk penyakit baru seperti flu burung atau flu babi.

Perlu diingat pula bahwa laporan penelitian analitik selalu diawali dengan deskripsi subyek penelitian lebih dulu, sebelum dilakukan analisis. Dalam hal seperti ini bukan berarti penelitian tersebut bersifat deskriptif dan analitik, kecuali apabila deskripsi subyek yang terpilih merupakan salah satu pertanyaan penelitian yang secara khusus perlu dijawab.

Penelitian analitik observasional umumnya dibagi menjadi tiga jenis, yaitu (1) studi cross-sectional, (2) studi kasus-kontrol, (3) studi kohort. Akhir-akhir ini meta-analisis, suatu desain khusus yang menggabungkan hasil banyak studi, digolongkan dalam studi observasional analitik.

Telah dikemukakan bahwa klasifikasi jenis desain penelitian sangat beragam; setiap ahli membuat klasifikasi sendiri, seringkali terkesan dengan mengabaikan klasifikasi yang dibuat oleh ahli yang lain.

Pembagian desain tersebut cukup praktis dan didasarkan pada ada atau tidak adanya intervensi atau manipulasi yang dilakukan oleh peneliti terhadap satu atau lebih variabel penelitian dan kemudian mempelajari efek perlakuan tersebut, sedang pada studi observasional ia melakukan ia melakukan pengamatan atau pengukuran terhadap berbagai jenis variabel subyek penelitian menurut keadaan alamiah, tanpa berupaya melakukan manipulasi atau intervensi.

Perlu sedikit dijelaskan tentang makna kata intervensi dalam desain penelitian ini. Yang dimaksud dengan intervensi dalam konteks ini adalah pelakuan yang dilakukan oleh peneliti terhadap subyek penelitian, dan hasil perlakuan tersebut diamati, diukur, dan anlisis. Apabila peneliti melakukan tindakan atau intervensi, namun efek intervensi tersebut tidak diukur dan tidak dianalisis, maka hal tersebut bukan merupakan suatu studi intervensi. Sebagai contoh seorang ahli bedah melakukan intervensi bedah untuk mengambil batu empedu dan meneliti komposisi batu empedu dan meneliti komposisi batu empedu yang diambilnya, maka ahli bedah tersebut tidak dapat dikatakan melakukan penelitian intervensional melainkan melakukan studi observasional. Ciri khas studi intervensional dibanding dengan studi observasional adalah pada studi intervensional peneliti menentukan subyek mana yang akan memperoleh perlakuan apa, sedangkan pada studi observasional pajanan terhadap faktor risiko atau variabel independen berlangsung secara alamiah.

Artikel Lainnya

error: Content is protected !!